Perjalanan Kerja Seorang Pseudoworkoholik
April 11th, 2008 by primasabdullahSaya lantas menjadi mulas. Mungkin karena pagi itu kami sepertinya akan
telat dan ditinggal pesawat. Atau mungkin karena liukan manuver yang dilakukan
si pak supir di medan bergelombang tidak berketentuan untuk memastikan kami
check-in di detik terakhir. Atau mungkin karena seorang bapak dalam gerombolan
(saya hendak memilih diksi rombongan, tapi kami lebih mirip gerombolan) mulai
bernostalgia tentang lagu Beatles yang diperdengarkan di pemutar kaset. Lantas
kemudian meracaulah dirinya sampai pada topik tentang bagaimana pemuda di masa
lalu jauh lebih memiliki integritas ketimbang pemuda masa kini, tentang betapa
pemuda masa kini dimanjakan oleh kemudahan zaman, tentang bagaimana pemuda masa
kini telah menjauh dari nilai yang dijunjung tinggi oleh founding fathers kita.
Si Bapak bertanya pada saya dan seorang kawan saya yang masih dianggap muda
dengan maksud menguji, “Coba tau enggak Pancasila sila ke-4?”
Kawan saya yang
sepertinya bermaksud melucu hanya tertawa-tawa saja.Hal ini memicu racauan tersebut
ke dalam tingkat yang lebih tinggi. Saya yang berada dalam kondisi
semi-mengantuk mulai melayang ke alam yang jauh dari racau tersebut.
Perjalanan ini
sebenarnya bermula tepat seminggu sebelum kejadian diatas terjadi. Saya diharuskan
mepresentasikan pekerjaan saya di hadapan Pak Gubernur di ibukota provinsinya
pada hari kamis jam 9. Untuk menghindari menyakiti orang-orang yang tidak
diinginkan dan mencegah saya bermalam di hotel prodeo karena berbicara tanpa
bukti kuat, (halah, ini kan Indonesia, ada bukti kuat juga bisa bermalam di
sana) maka kita sebut saja kota yang harus saya kunjungi itu bernama J.
Tiketpun dipesan untuk ke kota J tersebut. Di pikiran saya
terbentanglah suatu rencana laknat: Berangkat hari selasa malam dari Jakarta,
sampai Rabu pagi di J; Presentasi hari Kamis pagi; ketawa-ketiwi mengelilingi
keindahan kota J kamis malam; lantas pulang kembali ke Jakarta jumat.
Berbekal rencana laknat tadi, kamipun berangkat dan sampai
di kota J hari Rabu setelah melakukan perjalanan berjam-jam. Sesampainya di
sana, kamipun check-in di hotel yang paling dapat membuat kami bekerja dengan
kondusif (baca:mahal) lantas kamipun beraksi menuntaskan presentasi sampai
begadang, kalau perlu. Akan tetapi tidak perlu panik, karena tidak seperti
waktu saya mahasiswa kalau begadang artinya begadang, begadang dalam gerombolan
kami, yang didalamnya terdapat beberapa orang yang telah berusia, begadang
artinya kerja sampai jam 1 pagi.
Esok paginya dalam keadaan riang gembira karena presentasi
telah tuntas, kamipun bergerak menuju tempat presentasi, hanya untuk mengetahui
bahwa si Pak Gubernur masih di Singapur, dan presentasi ditunda hari Senin depan.
Buruknya koordinasi dinas yang mengorganisasi presentasi itu membuat pemimpin gerombolan kami berpikir akan lebih efektif
kalau kami menunggu daripada pulang ke Jakarta hari jumat, lantas berangkat
lagi hari minggu ke J. Artinya saya harus menghabiskan akhir pekan saya di
hotel di suatu tempat yang indah dan dibayar oleh kantor karena ini terhitung
perjalanan kerja. Mendengar keputusan tersebut, saya langsung hi-five kepada
anggota gerombolan lain.
Kebijakan pertama yang saya ambil selaku kuasa pengguna
anggaran untuk menindaklanjuti keputusan pemimpin gerombolan kami adalah…
Membeli celana renang.
Jumat malam, setelah bekerja keras seharian untuk
bersenang-senang, kami makan di sebuah
warung seafood, yang ikannya paling
pendek 25 cm untuk tiap anggota gerombolan. Perhatikan kata ‘tiap’ untuk
menegaskan kadar kerakusan kami. Sekenyangnya kami, ketika kami bermaksud
membayar, si ibu kasir berkata kami telah dibayarkan oleh seorang Bupati dari
daerah W yang masih dibawah Gubernur yang ingin saya temui ini. Dengan senang
hati kami lantas pulang ke kamar hotel kami tanpa keluar uang. Walaupun uangnya
pun uang kantor pula.
Keesokannya di lounge terdapat keriuhan. Saya yang masih
sedikit tipsy karena menghabiskan coklat mini bar sendirian, mencoba
mencaritahu asal keriuhan ini. Ternyata si Bupati dari daerah W menginap pula
di hotel yang sama dengan kami. Rupanya sama seperti saya, Bupati W tersebut
berjanji ketemu dengan si Pak Gubernur pula. Dan Ia pun, sama seperti kami,
memutuskan untuk menunggu di hotel ini, meskipun penerbangan kembali ke
daerahnya mungkin hanya 30 menit. Kini ia tengah bernyanyi dengan riang gembira
bersama rombongannya. Tidak hanya itu semua orang yang datang dan bersliweran
di dekat lounge akan ditraktir minuman. Dan traktirannya bukan air putih
belaka.
Saya jadi berpikir, nampaknya agak aneh kalau si Bupati mau
mentraktir rakyat jelata seperti kami berulang-ulang. Pertama di warung, kedua
di sini. Dan tidak jaminan dia tidak mentraktir orang lain di tempat lain pula.
Perilaku yang seperti tidak mengetahui betapa berharganya uang. Lantas saya
mencoba menganalisis bersama salah seorang anggota gerombolan kami.
Ternyata-eh-ternyata. Uang sebanyak itu dibebankan kepada uang operasional
Bupati. Semua terjadi karena pemekaran wilayah yang kini marak di negara kita
membuat provinsi Indonesia ditotal menjadi 33, Kabupaten menjadi 370, dan kota
menjadi 95. Para raja-raja kecil ini merasa berhak menggunakan uang operasional
yang berasal dari APBD. Uang tersebut tentu saja seharusnya milik kita, dan
seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan kita. Bukan untuk
dihabiskan untuk mentraktir orang tidak dikenal. Tapi itu diperbolehkan.
Saya mencoba menciptakan prasangka baik kepada si Bupati W.
Mungkin Karena Bupati W itu letih menempuh perjalanan pulang ke daerahnya yang
mungkin hanya 30 menit ketimbang kami yang harus menempuh waktu 6 jam; atau mungkin
Bupati W itu merasa pekerjaan kantornya akan lebih kondusif dikerjakan di Hotel
tersebut; atau mungkin Bupati W tersebut belum liburan semenjak menjabat di
kantornya. Akan tetapi semakin banyak prasangka baik yang saya ciptakan,
semakin pedih hati saya.
Salah satu contoh yang dikatakan teman segerombolan saya
adalah bagaimana petty cash yang dianggarkan sebuah perusahaan tambang untuk bupati
yang daerah kekuasaannya meliputi kawasan pertambangannya dapat mencapai 300M. Benar-benar
dalam bentuk Cash, tapi tidak petty. Dan uang sebanyak itu akan hangus,
terpakai atau tidak. Tentu saja uang sebanyak itu dipakai sedipakai-dipakainya.
Saya jadi ingat bagaimana Founding Fathers kita benar-benar
menderita mendirikan negara ini. Bagaimana Hatta memilih untuk tidak bekerja sama dengan Kolonialis
Belanda ketika dalam pembuangan di Boven Digul. Bahkan ketika Belanda
menawarkan memberikan uang sangu yang diperlukan Hatta untuk biaya perangko
mengirimkan tulisan di koran, Hatta pun menolak. Padahal uang itu adalah hak
miliknya.
Atau ketika RA. Kartini memutuskan untuk tidak menerima
Beasiswa sekolah kedokteran ke Belanda karena sudah menikah dan ingin mengabdi
pada suaminya. (hmm.. Kayaknya familiar dengan curhatan siapaaa gitu) RA. Kartini
lantas mengusulkan agar beasiswa tersebut diberikan kepada pemuda Agus Salim. Tetapi
Agus Salim pula memilih untuk tidak mengambil beasiswa kuliah kedokteran ke
Belanda karena keengganannya dikasihani oleh Belanda.
Atau Soekarno yang berusia 24 thn, ketika karirnya yang
cemerlang di konsultan Arsitektur memilih unuk berkonsentrasi di dunia politik
dan keluar masuk penjara. Banyak lagi cerita dari Tan Malaka, RM. Tirto Adhi
Suryo, dan lainnya.
Uang adalah benda yang teramat menggiurkan. Dan
ketidaktergiuran tokoh-tokoh ini kita pada uang mungkin adalah kualitas yang
membuat Indonesia dulu bisa berdiri dengan gagah. Dan ketika mereka dihadapkan
dalam dua pilihan yang sama-sama benar, mereka memilih pilihan yang lebih tidak
logis, kemaslahatan orang banyak.
Saya menjadi agak merasa bersalah dengan celana renang saya
yang dibeli dengan uang kantor. Saya seharusnya tidak bersenang-senang dengan
uang kantor. Meski yang saya lakukan diperbolehkan, sisa uang operasional
kantor bisa berputar kembali menjadi bonus bagi teman-teman kantor saya.
Akhirnya perjalanan kantor tadi diganggu dengan informasi
bahwa presentasi yang seharusnya terjadi hari Senin, ditunda menjadi Sabtu.
Kali ini kami menyikapinya dengan pulang cepat. Yang mengantarkan kita pada
cerita di awal tadi. Dimana si bapak masih meracau tentang betapa pemuda masa
kini begitu tidak peduli dengan masa depan bangsanya dan masih bertanya tentang
sila ke-4 Pancasila.
“Emang apa pak sila ke-4 Pancasila?” saya bertanya untuk
mengakhiri topik tersebut.
Si bapak menjawab dengan Mantap, “Persatuan Indonesia.”