Perjalanan Kerja Seorang Pseudoworkoholik

April 11th, 2008 by primasabdullah

Saya lantas menjadi mulas.  Mungkin karena pagi itu kami sepertinya akan
telat dan ditinggal pesawat. Atau mungkin karena liukan manuver yang dilakukan
si pak supir di medan bergelombang tidak berketentuan untuk memastikan kami
check-in di detik terakhir. Atau mungkin karena seorang bapak dalam gerombolan
(saya hendak memilih diksi rombongan, tapi kami lebih mirip gerombolan) mulai
bernostalgia tentang lagu Beatles yang diperdengarkan di pemutar kaset. Lantas
kemudian meracaulah dirinya sampai pada topik tentang bagaimana pemuda di masa
lalu jauh lebih memiliki integritas ketimbang pemuda masa kini, tentang betapa
pemuda masa kini dimanjakan oleh kemudahan zaman, tentang bagaimana pemuda masa
kini telah menjauh dari nilai yang dijunjung tinggi oleh founding fathers kita.
Si Bapak bertanya pada saya dan seorang kawan saya yang masih dianggap muda
dengan maksud menguji, “Coba tau enggak Pancasila sila ke-4?”

 Kawan saya yang
sepertinya bermaksud melucu hanya tertawa-tawa saja.Hal ini memicu racauan tersebut
ke dalam tingkat yang lebih tinggi. Saya yang berada dalam kondisi
semi-mengantuk mulai melayang ke alam yang jauh dari racau tersebut.

 Perjalanan ini
sebenarnya bermula tepat seminggu sebelum kejadian diatas terjadi. Saya diharuskan
mepresentasikan pekerjaan saya di hadapan Pak Gubernur di ibukota provinsinya
pada hari kamis jam 9. Untuk menghindari menyakiti orang-orang yang tidak
diinginkan dan mencegah saya bermalam di hotel prodeo karena berbicara tanpa
bukti kuat, (halah, ini kan Indonesia, ada bukti kuat juga bisa bermalam di
sana) maka kita sebut saja kota yang harus saya kunjungi itu bernama J.

Tiketpun dipesan untuk ke kota J tersebut. Di pikiran saya
terbentanglah suatu rencana laknat: Berangkat hari selasa malam dari Jakarta,
sampai Rabu pagi di J; Presentasi hari Kamis pagi; ketawa-ketiwi mengelilingi
keindahan kota J kamis malam; lantas pulang kembali ke Jakarta jumat.

Berbekal rencana laknat tadi, kamipun berangkat dan sampai
di kota J hari Rabu setelah melakukan perjalanan berjam-jam. Sesampainya di
sana, kamipun check-in di hotel yang paling dapat membuat kami bekerja dengan
kondusif (baca:mahal) lantas kamipun beraksi menuntaskan presentasi sampai
begadang, kalau perlu. Akan tetapi tidak perlu panik, karena tidak seperti
waktu saya mahasiswa kalau begadang artinya begadang, begadang dalam gerombolan
kami, yang didalamnya terdapat beberapa orang yang telah berusia, begadang
artinya kerja sampai jam 1 pagi.

Esok paginya dalam keadaan riang gembira karena presentasi
telah tuntas, kamipun bergerak menuju tempat presentasi, hanya untuk mengetahui
bahwa si Pak Gubernur masih di Singapur, dan presentasi ditunda hari Senin depan.
Buruknya koordinasi dinas yang mengorganisasi presentasi itu membuat  pemimpin gerombolan kami berpikir akan lebih efektif
kalau kami menunggu daripada pulang ke Jakarta hari jumat, lantas berangkat
lagi hari minggu ke J. Artinya saya harus menghabiskan akhir pekan saya di
hotel di suatu tempat yang indah dan dibayar oleh kantor karena ini terhitung
perjalanan kerja. Mendengar keputusan tersebut, saya langsung hi-five kepada
anggota gerombolan lain.

Kebijakan pertama yang saya ambil selaku kuasa pengguna
anggaran untuk menindaklanjuti keputusan pemimpin gerombolan kami adalah…

Membeli celana renang.

Jumat malam, setelah bekerja keras seharian untuk
bersenang-senang, kami makan di sebuah
warung  seafood, yang ikannya paling
pendek 25 cm untuk tiap anggota gerombolan. Perhatikan kata ‘tiap’ untuk
menegaskan kadar kerakusan kami. Sekenyangnya kami, ketika kami bermaksud
membayar, si ibu kasir berkata kami telah dibayarkan oleh seorang Bupati dari
daerah W yang masih dibawah Gubernur yang ingin saya temui ini. Dengan senang
hati kami lantas pulang ke kamar hotel kami tanpa keluar uang. Walaupun uangnya
pun uang kantor pula.

Keesokannya di lounge terdapat keriuhan. Saya yang masih
sedikit tipsy karena menghabiskan coklat mini bar sendirian, mencoba
mencaritahu asal keriuhan ini. Ternyata si Bupati dari daerah W menginap pula
di hotel yang sama dengan kami. Rupanya sama seperti saya, Bupati W tersebut
berjanji ketemu dengan si Pak Gubernur pula. Dan Ia pun, sama seperti kami,
memutuskan untuk menunggu di hotel ini, meskipun penerbangan kembali ke
daerahnya mungkin hanya 30 menit. Kini ia tengah bernyanyi dengan riang gembira
bersama rombongannya. Tidak hanya itu semua orang yang datang dan bersliweran
di dekat lounge akan ditraktir minuman. Dan traktirannya bukan air putih
belaka.

Saya jadi berpikir, nampaknya agak aneh kalau si Bupati mau
mentraktir rakyat jelata seperti kami berulang-ulang. Pertama di warung, kedua
di sini. Dan tidak jaminan dia tidak mentraktir orang lain di tempat lain pula.
Perilaku yang seperti tidak mengetahui betapa berharganya uang. Lantas saya
mencoba menganalisis bersama salah seorang anggota gerombolan kami.
Ternyata-eh-ternyata. Uang sebanyak itu dibebankan kepada uang operasional
Bupati. Semua terjadi karena pemekaran wilayah yang kini marak di negara kita
membuat provinsi Indonesia ditotal menjadi 33, Kabupaten menjadi 370, dan kota
menjadi 95. Para raja-raja kecil ini merasa berhak menggunakan uang operasional
yang berasal dari APBD. Uang tersebut tentu saja seharusnya milik kita, dan
seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan kita. Bukan untuk
dihabiskan untuk mentraktir orang tidak dikenal. Tapi itu diperbolehkan.

Saya mencoba menciptakan prasangka baik kepada si Bupati W.
Mungkin Karena Bupati W itu letih menempuh perjalanan pulang ke daerahnya yang
mungkin hanya 30 menit ketimbang kami yang harus menempuh waktu 6 jam; atau mungkin
Bupati W itu merasa pekerjaan kantornya akan lebih kondusif dikerjakan di Hotel
tersebut; atau mungkin Bupati W tersebut belum liburan semenjak menjabat di
kantornya. Akan tetapi semakin banyak prasangka baik yang saya ciptakan,
semakin pedih hati saya.

Salah satu contoh yang dikatakan teman segerombolan saya
adalah bagaimana petty cash yang dianggarkan sebuah perusahaan tambang untuk bupati
yang daerah kekuasaannya meliputi kawasan pertambangannya dapat mencapai 300M. Benar-benar
dalam bentuk Cash, tapi tidak petty. Dan uang sebanyak itu akan hangus,
terpakai atau tidak. Tentu saja uang sebanyak itu dipakai sedipakai-dipakainya.

Saya jadi ingat bagaimana Founding Fathers kita benar-benar
menderita mendirikan negara ini. Bagaimana Hatta memilih untuk tidak bekerja sama dengan Kolonialis
Belanda ketika dalam pembuangan di Boven Digul. Bahkan ketika Belanda
menawarkan memberikan uang sangu yang diperlukan Hatta untuk biaya perangko
mengirimkan tulisan di koran, Hatta pun menolak. Padahal uang itu adalah hak
miliknya.

Atau ketika RA. Kartini memutuskan untuk tidak menerima
Beasiswa sekolah kedokteran ke Belanda karena sudah menikah dan ingin mengabdi
pada suaminya. (hmm.. Kayaknya familiar dengan curhatan siapaaa gitu) RA. Kartini
lantas mengusulkan agar beasiswa tersebut diberikan kepada pemuda Agus Salim. Tetapi
Agus Salim pula memilih untuk tidak mengambil beasiswa kuliah kedokteran ke
Belanda karena keengganannya dikasihani oleh Belanda.  

Atau Soekarno yang berusia 24 thn, ketika karirnya yang
cemerlang di konsultan Arsitektur memilih unuk berkonsentrasi di dunia politik
dan keluar masuk penjara. Banyak lagi cerita dari Tan Malaka, RM. Tirto Adhi
Suryo, dan lainnya.

Uang adalah benda yang teramat menggiurkan. Dan
ketidaktergiuran tokoh-tokoh ini kita pada uang mungkin adalah kualitas yang
membuat Indonesia dulu bisa berdiri dengan gagah. Dan ketika mereka dihadapkan
dalam dua pilihan yang sama-sama benar, mereka memilih pilihan yang lebih tidak
logis, kemaslahatan orang banyak.

Saya menjadi agak merasa bersalah dengan celana renang saya
yang dibeli dengan uang kantor. Saya seharusnya tidak bersenang-senang dengan
uang kantor. Meski yang saya lakukan diperbolehkan, sisa uang operasional
kantor bisa berputar kembali menjadi bonus bagi teman-teman kantor saya.

Akhirnya perjalanan kantor tadi diganggu dengan informasi
bahwa presentasi yang seharusnya terjadi hari Senin, ditunda menjadi Sabtu.
Kali ini kami menyikapinya dengan pulang cepat. Yang mengantarkan kita pada
cerita di awal tadi. Dimana si bapak masih meracau tentang betapa pemuda masa
kini begitu tidak peduli dengan masa depan bangsanya dan masih bertanya tentang
sila ke-4 Pancasila.

“Emang apa pak sila ke-4 Pancasila?” saya bertanya untuk
mengakhiri topik tersebut.

Si bapak menjawab dengan Mantap, “Persatuan Indonesia.”

cinta, seks, dan orgy

February 13th, 2008 by primasabdullah

Lantas Februari pun tiba. Selain dikenal sebagai bulan
dimana saya mengalami krisis perempat baya, bulan ini dikenal pula sebagai
bulan penuh cinta. Maka izinkanlah saya sejenak membicarakan cinta.

Cinta, Jay? Lo mau ngomongin cinta?

Yah, gak juga sih. Lelaki dengan raging hormone seperti
saya ngomongin cinta seperti meminta Raam Punjabi membuat sinetron berkualitas,
yang tentu saja jauh dari bisa. Tetapi, kalau anda mau membicarakan seks dan
segala kemesumannya, anda mungkin sedang membaca posting yang paling tepat.

Tetapi, seperti yang kita semua ketahui, cinta adalah hawa nafsu
yang sedang dalam penyamaran, perlahan mengendap-endap menanti momentum yang
sempurna untuk menampakkan diri. Yah, paling tidak begitulah ilmu pengetahuan
terkini memandangnya. Jadi, andaikan saya mesum, itu karena saya ilmiah. Hehe…

Begitu ilmiahnya sehingga saya berani mempertanggungjawabkan
kemesuman saya. Nanti saat calon bapak mertua saya bertanya pada apa kiranya yang
saya inginkan dari menikahi putrinya, ketika melamar putrinya nanti, saya akan
menjawab, “seks.”

Jawaban ini mungkin disertai pingsannya ibu mertua saya, jatuhnya
porselen yang sedang digunakan si bibik untuk menjamu saya dengan teh, dan bunyi
golok dikeluarkan dari sangkurnya oleh calon abang ipar saya. Saya harus lari
terbirit-birit meninggalkan martabak yang saya bawakan untuk mereka. Tetapi,
saya berkata benar, bukan? Hal apa yang menjadi agenda pertama anda pada saat
menikah? Apa yang nantinya anda kerjakan pada malam pertama anda? Bukan main
capsa atau poker jawa, kan? Kalo gw kawin sama chimot a.k.a. Widianty Mustika
Pandanwangi (pakabar, wid?) mungkin iya.

Hal yang sama berlaku
pula untuk Valentine. Meskipun literatur modern banyak menganggap hari valentine
bermula pada zaman yunani kuno untuk merayakan festival dewa kesuburannya, dan
disambung-sambungkan dengan hari sucinya St. Valentine (that’s where the name
comes from, in case you haven’t notice) yang martir bukan karena cinta, sedikit
yang tahu, valentine dimulai pada masa Mesopotamia kuno. Heh, kebayang nggak
nenek moyangnya Saddam Hussein memulai sesuatu yang berbau cinta-cintaan. Kalau
enggak, jangan dibayangin. Karena pada masa itu bukan cinta yang dirayakan. Tapi,
seks. Jadwal festivalnya yang berlangsung saat itu kurang lebih berisi acara seperti: berdoa, orgy, orgy dan ehmm.. apalagi ya? Oh  iya, orgy.

Alasan pelaksanaan festival ini sebenarnya pragmatis,
menyeragamkan waktu kehamilan. Sehingga, ketika musim dingin dan si ibu tidak
ada kerjaan (masa itu belom ada tv+hp, jadi ketika saya katakan ‘tidak ada
kerjaan’, bayangkan sesuatu yang jauh lebih membosankan dan mungkin sedikit
lebih suicidal daripada tidak ada
channel yang cukup jelas selain Indosiar pada saat jam tayangnya mamamia dan
gak punya pulsa) si ibu akan disibukkan dengan melahirkan anak, dan ketika nanti
saatnya berladang, si anak sudah cukup bisa ditinggal si ibu. Pembagian waktu
kerja yang efektif, bukan? Kaizen banget.

Jadi moral apa yang bisa kita tarik dari posting kali ini? Tidak
ada. Yah, kalaupun ada, berhati2lah terhadap lelaki dengan raging hormone, semua yang sakral bisa menjadi profan. Which include
this post.

Tenang, masih ada tahun depan…

December 28th, 2007 by primasabdullah

Eh, udah mau ganti tahun aja nih. Biasanya ada dua hal yang erat
hubungannya dengan Tahun baru: Liburan dan Resolusi. Ngomong-ngomong soal liburan, seorang kawan
saya mengajak saya liburan ke Jokja akhir tahun ini. Saya menjawab padanya, “hehe…
mau sih. Tapi, kata ‘konsultan’ dan frase
liburan akhir tahun’ tidak cocok”. Dia tidak menjawab, entah karena dia shock, atau karena bergulingan di Malioboro sambil tertawa mengetahui jawaban saya, atau mungkin sibuk memilih batik, atau sibuk sedang sesi foto dengan sepeda. Tapi, ini sungguh terjadi, seperti percakapan melalui telepon yang rabu (26/12) kemarin saya
alami;

     “Prima, rapat koordinasi
proyek T*****, kapan?”

    “Wah pak, pegawai negeri kan cuti massal, gimana kita bisa
koordinasi sama mereka?”

    “Kalo gitu kita rapat internal aja.”

    “Ehm.. tenaga ahli kita baru bisa koordinasi sama kita lagi
sesudah tanggal 2, pak.”

    “Kalau bisa minggu ini. Jumat ya?”

Ternyata saya salah. Kedua kata tersebut bisa saja cocok,
hanya saja perlu ditambahkan frase keterangan cara, ‘dengan penuh gangguan’, tentunya. Dalam posisi yang berkebalikan biasanya dia akan berkata, “sa’ karepmu la, prim.”

Sebenarnya liburan ke jokja kemarin bukan satu-satunya tawaran
liburan. Seorang kawan saya yang lain sudah mengajak saya liburan ke pulau surga
tempat persembunyian kreditur nakal. Bukan, saya bukan sedang membicarakan Pulau
Cayman. Jadi rencananya kami berdua ke pulau tersebut dengan dengan naik
pesawat ke Batam disambung dengan kapal Feri. Disana kami berdua akan
bersenang-senang… 

…maksudnya, dia bersenang-senang dengan cowoknya sementara
saya dengan entah apapun yang ada di sana.

“Jadi lu sendirian, jay?” kawan saya Erlangga Baskara pasti
bertanya dengan wajahnya yang menyeringai. Iya, Be. Sendirian. Tapi, tidak sendirian
a la Quickie Express kok.

Ngomong-ngomong soal Quickie Express. Itu adalah film yang akting
aktor-aktornya mantep(kecuali Tora dan Aming); alur ceritanya logis; estetika
visualnya keren; isinya Err… yah, kosong. Itu pasti salah satu contoh Film
Indonesia yang secara teknis sempurna, tapi tidak making-a-statement. Saya teringat film G-30-S/PKI-nya Arifin C.
Noer. Tau adegan ini kan:

Gerombolan serdadu tanpa identitas itu mengacungkan
senjatanya pada seseorang yang berlari dalam kegelapan lantas membentak orang itu, “ Berhenti!”
Orang itu berhenti dan berdiri menghadap kepada gerombolan serdadu tersebut. Serdadu
tersebut kembali membentak, “Mana Nasution!”

Dari kegelapan keluarlah orang itu dan dapatlah dikenali
wajah Pierre Tendean, dengan gagah dia mengangkat tangannya dan berkata, “Saya
Nasution.”

Saya masih merinding membayangkan kegagahan Pierre Tendean mengatakan
kata-kata itu. Dan bukan hanya bagian itu. Ada banyak lagi adegan dan penokohan
yang luar biasa kerennya. Selain kekuatan visualnya, film ini benar-benar making-a-statement. Statement apa? Don’t
f*ck with Soeharto. Hehe.. Gak deng.
Infotainment aja sekarang berani sama Soeharto. Ayo dong,  masak belasan kali film ini diulang-ulang di
TVRI gak ngerti juga sih kerennya film ini dimana.

Mungkin film Indonesia sedang mengalami masa dimana identitasnya
hanya dapat diukur dari estetika kulitnya. Bukan statement-nya. Kalau di
arsitektur, mungkin inilah masa postmodern-nya. Dimas Jayadiningrat mungkin
Peter Graves-nya. Walaupun begitu, saya jadi teringat my last year’s movie related resolution. Saya beresolusi untuk
tidak akan pernah nonton film asing di bioskop lagi (kecuali Jiffest tentu saja).
Sayangnya resolusi ini pada pertengahan tahun dipatahkan oleh Spiderman 3. Sebuah
film yang tidak pantas dibela-belain nonton di bioskop. Saya lupa, apakah
setelah itu apakah saya menonton suatu film asing lagi. Jadi, mungkin ini
kesempatan yang baik untuk memulai resolusi baru yang berhubungan dengan dunia
perfilman, untuk hanya menonton Film Indonesia di bioskop.

Anda mungkin bertanya terus kalo ada Indiana Jones 4 di 2008
gimana? Saya mengincourage anda untuk mencari DVD-nya di glodok. “Apa? Jadi lu
mendukung Pembajakan?” Maaf, saya tidak mendukung semua pembajakan. Apalagi
Film Lokal. Saya sengaja tidak menonton film Nagabonar yang pertama karena
diunduh(Unduh itu Bahasa Inggrisnya download,
Pake bahasa indonesa yang bener dong) dari youtube. Tapi, saya mendukung
pengembalian barang-barang anak cucu saya dan saudara-saudara saya yang diembat
sama freeport; Saya mendukung penghapusan Utang Najis-nya (emang istilahnya
utang najis, bukan gw berhiperbola ria) Bank Dunia. Kerugian film dan software bajakan
itu kecil dibandingkan dengan kerugian yang kita derita. Bukan rugi finansial
aja ya, kerugian momentum. Tahun 60 kita masih di atas Cina, Tahun 70 kita
masih di atas Korea, Tahun 80 kita masih diatas Malaysia, Tahun 90 kita masih
di atas Thailand. Sekarang? Momentum susah dicari.

Whoa, kok agak panas ya? Yah, Sayang resolusinya tidak
terlaksana lebih awal. Tapi, tenang, masih ada tahun depan…

Eniwei, kembali ke topik. Rencana jalan-jalan ke negeri
persembunyian koruptor tersebut, tentu sudah berjalan dengan mulusnya andai awal
november lalu atasan saya tidak pernah bertanya,”Prima, proyek T***** gimana
kabarnya.”

    “Lancar-lancar aja pak.”

    “Oh, kalo gitu kamu bantuin bikin gambar S****** ya.”

    “APBN, pak?”

    “Bukan, APBD.”

“Damn.” Asiknya dengan proyek APBN adalah si proyek harus selesai
sebelum tutup buku. Sehingga fee konsultan bisa dibayarkan dengan alokasi dana
APBN di tahun ketika proyek tersebut dikeluarkan. Kalau tidak ada pemasukan, fee
hangus. Hangusnya fee adalah sesuatu yang sangat tidak diinginkan
konsultan. Bukan hanya karena gaji
karyawan berasal dari sana, melainkan juga karena di dalamnya ada upeti kepada
panitia tender. Nah, waktu pemasukan APBN kurang lebih 2 minggu sebelum
pergantian tahun, sedangkan biasanya APBD satu minggu lebih awal dari pemasukan
APBN.

Anda mungkin bertanya, “Kenapa Bingung Jay?APBD ‘kan
pemasukkannya lebih awal? Selesainya lebih awal dong. Kita bisa liburan akhir
tahun”

Tunggu dulu, kita belum masuk ke bagian yang menyebalkan. Di
dalam dunia nyata, pemasukkan lebih dulu tidak sinonim dengan selesai lebih
dulu. Jadi, biasanya kalaupun tidak selesai, biasanya konsultan nakal akan
memasukkan sembarang gambar sekedar untuk penagihan fee. Dan kemudian
dilengkapi di kemudian hari. Bagian ‘dilengkapi
di kemudian hari
’ inilah yang menyebalkan. Konsultan nakal yang terhormat
biasanya tidak ingin menunda lama-lama pengumpulan. Jadilah konsultan nakal yang
terhormat tersebut mengambil waktu cuti massal karyawannya.  Tapi, saya tidak sedang membicarakan konsultan saya kok, konsultan saya tidak nakal lagi terhormat, kok. Saya memang berinisiatif melengkapi gambar. (yeah right) Untungnya gambar-gambar
ini selesai sehari sebelum natal, dan sayapun kembali dalam ketenangan liburan,
sampai rabu kemarin telepon saya berdering dan dimulailah percakapan seperti
yang terjadi di pangkal posting-an ini.

Kayak gini caranya, kapan gw bisa liburan berkontemplasi
dengan khusyuk? (kontemplasi=menamatkan Grand Theft Auto : San Andreas) Tenang,
masih ada tahun depan…

Boy-Girl Thing II

July 5th, 2007 by primasabdullah

Suatu ketika saya pernah menemani kawan saya, yang kebetulan perempuan, melamar pekerjaan pada suatu studio penulisan arsitektur, di suatu tempat yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Dengan niat mencoba menjadi seorang teman yang baik, ditambah fakta bahwa kawan saya yang sepanjang hayatnya cuma mengenal jalan-jalan di kampung halamannya dan bandung, sayapun mencetak gambar dari peta digital untuk mengantarkan dirinya dengan mobil. Di sepanjang perjalanan, yang ternyata penuh liku, saya mulai kesulitan membaca peta sambil mengendarai mobil. (don’t try this at home, kids) Dengan cerdasnya saya mengangkat dirinya menjadi menjadi navigator untuk membaca peta.

“coba liat, sekarang kita kemana?”

”gua enggak bisa baca peta…”

”ha? Elo enggak bisa baca peta?”

”women can’t read maps.”

Jawaban singkat itu membuat saya befikir, setelah tertawa puas berjam-jam tentunya, apakah benar perempuan tidak bisa membaca peta? Saya jadi teringat buku tentang hubungan lelaki-perempuan seperti, Pernah baca buku John Gray phd, ‘Men are from mars women are from venus’? lanjutan buku ini mungkin gay from uranus (baca uranus perlahan-lahan, it’s a lame joke, I know) Atau, buku ’Why men don’t listen and women can’t read maps’-nya Allan Pease.

Di buku-buku tersebut, diceritakan perbedaan besar antara perempuan dan lelaki. Misalnya, Lelaki enggak bisa multitasking; enggak suka dibilangin; harus dijauhi kalau lagi pengen menyendiri; dll. Ketika dahulu membaca buku-buku ini, Sayapun berpikir, ”ohhh pantas…” sebagai tanda amin.

Untuk poin pertama, saya teringat waktu saya kecil. Ibu saya selalu menertawakan bapak saya yang tidak dapat mengupas telur sambil mengemudi, padahal bapak sayalah orang yang mengajarkan ibu saya mengemudi. Prima kecil yang tidak mengerti konsep multitasking pun tertawa pula. Sampai ketika si Prima dewasa dan belajar mengemudi. Saya pun kini mengetahui, mengemudi sambil mengupas telur itu tidak mungkin kalau tidak di tempat parkir. Saya mulai berpikir, mungkin kami lelaki benar tidak bisa multitasking.

Sayangnya alasan ini tidak bisa digunakan dalam dunia kerja, ”Prim, ada tender, minggu depan. Kamu yang tekel ya.” Intonasinya seperti tanda tanya tapi sebenarnya tanda seru dalam penyamaran. Saya bingung mau memberi tanda baca apa.. 

”Yah pak, proyek yang satu lagi ada deadline di minggu yang sama.”

”It’s okay, kamu bisa multitasking kan?”

”Eh, gak bisa, pak.”

”Heu? Kamu enggak bisa multitasking?”

“Men can’t multitask, sir.”

Biasanya kalimat ini diakhiri dengan jurus pamungkas, “Sa’ karepmu, lah!. Pokoknya senen depan dokumennya masuk.” Dan senin depannya dokumen tender itupun masuk. Masalah saya bisa multitasking atau tidak menjadi tidak relevan.

Tapi, untuk poin ke dua, tentang lelaki yang tidak mau mendengar, bukankah tidak semua lelaki tidak mau mendengar? Bukankah bidang ilmu yang paling membutuhkan kemampuan mendengar paling tinggi, psikoanalisis, memiliki tokoh lelaki? Freud?

Seorang teman perempuan saya tertawa mendengar kata-kata ini, dan berkata, “Prim, ever heard the word ‘penis envy’? There goes how bad his listening skills.” Penis envy adalah istilah yang  digunakan Freud untuk menggambarkan  perkembangan kondisi psikologis seksual pada seorang anak perempuan. Jadi katanya, si bayi perempuan begitu lahir langsung horny sama ibunya. Tetapi, mengetahui dirinya tidak dilengkapi secara fisik untuk ngapa2in sama ibunya, ia mengembangkan perasaan iri pada penis, dan salah satu cara untuk mendapatkan penis adalah dengan mengambil punya bapaknya. Perasaan menginginkan penis ini berkembang menjadi perasaan seksual pada ayahnya serta perasaan benci dan keinginan untuk melenyapkan ibunya. Seiring waktu berjalan, si anak akhirnya menyadari sulitnya melenyapkan ibunya, lantas meniru si ibu dengan harapan si anak dapat menggantikannya untuk lantas mendapatkan si bapak.. Akhirnya karena bosan, si anak mengembangkan perasaan horny-nya kepada semua lelaki. Absurd memang, but, it’s Freud’s.

“lho bukannya kalian perempuan memang iri pada kami?” saya melanjutkan.

”What?? Buat apa benda itu ama gua?” Argumen yang logis. Satu-satunya keuntungan kami hanyalah bisa kencing berdiri tanpa belepotan kemana-mana.

Sampai saat ini, saya sepakat lelaki memang tidak bisa dinasehati; tidak bisa multitasking; dan jago membaca peta. Sampai beberapa saat lalu, akhirnya postulat tersebut dipatahkan. Seorang teman perempuan saya yang tidak bisa dibilangin, tidak bisa multitasking dan bisa baca peta. ”Hah? Lo gak bisa multitasking? Bukannya semua cewek bisa multitasking?”

”Ntar dulu, gw lagi liat jalan. Lo ngomong apa tadi?” Waw, seorang multitasker yang parah. Saya jadi berfikir, kalau ada seorang perempuan bisa jadi anomali, mungkinkah ia menjadi seorang unitasker (multi lawan katanya uni, bukan? Multiseluler >< uniseluler?) karena dia selama ini tidak mengetahui bahwa perempuan adalah seorang multitasker, maka iapun menganggap dirinya seorang unitasker. Ia bisa baca peta, karena ia tidak tahu bahwa sistem sosial menuntut perempuan tidak bisa baca peta. Soal dia tidak bisa dibilangin, itu karena dia memang anak pertama. (ya, ya.. saya sadar saya anak pertama dan ini semata pembenaran dari fakta bahwa saya tidak bisa dibilangin.)

Sepertinya…

Jadi, apa moral posting kali ini? (Halah, gaya bener pake moral.) Jangan turuti self fulfiling prophecy yang hanya akan merugikan anda.

Oh iya, kembali ke kisah yang paling atas. Akhirnya hari itu kami menemukan lokasi studio tersebut. Dan ia pun berhasil melangsungkan wawancara dan tes tersebut. Di akhir hari itu, dia berkata dirinya tidak tertarik bekerja di sana karena jauhnya lokasi. Ia akhirnya memilih kerja di suatu konsultan. Dan katanya maret kemarin ia hendak resign. Tapi belum mengabari sampai kini. (Iya, gw ngomong sama elu! Mana? Mana?)

Praduga Bersalah

May 5th, 2007 by primasabdullah

Beberapa hari yang lalu saya menemani teman saya ke Suatu
Lembaga Bahasa. Di sana saya,
sebagaimana layaknya Benjai pada hari2 lainnya, mencari buku2 yang menarik
perhatian saya dengan pecicilannya. Trus kami melapor pada petugas perpus buku
apa saja yang akan kami pinjam. Sewaktu si petugas perpus, yang tampangnya
agak-agak bule, mau melepas kepergian kami, si petugas perpus meninggalkan
kesan terakhir yang masih membekas hingga kini. “jangan dicoret-coret ya.”

Deg! Kurang ajar! Apa yang membuat dia perlu berpesan
seperti itu? Kenapa si petugas perpus ini mesti meragukan niatan saya untuk
meminjam buku? Apa karena tampang saya bukan bule, sehingga dengan mudahnya
diasosiasikan dengan aksi2 vandalisme.

Dengan murkanya saya nanya, “Eh, emang tampang gua tampang
tukang coret-coret buku perpus?! Lu kira karena gua Indonesia, makanya gua akan cukup terkebelakang sehingga gak tau mana punya pribadi, mana
milik umum?!” Semua mata di perpus tertuju pada saya dan teman saya. Si petugas perpus salting. Satpam mulai mendekat untuk
melihat ada apa. Teman saya berusaha mengingatkan saya untuk tidak membuat keributan. Lalu saya pergi dengan membanting pintu.. Gubrak!

Gak deng! Adegan terakhir Cuma dibuat2. gak mungkin lah
terjadi. Saya orangnya chicken, kok. Pokoknya
saking chikennya, saya pernah mikir shio saya ayam.

Kembali ke topik. Walau adegan drama yang dibuat-buat tadi tidak
sungguh terjadi. Tetapi, pertanyaan tadi masih ada dalam otak gua. Kenapa tu
penjaga perpus perlu memasukkan asas praduga bersalah karena ngeliat tampang saya
yang bukan bule. Masak Cuma gara2 sebagian orang indonesia gak tau yang namanya barang milik publik, langsung dia ngeliat semua orang indonesia sama kadarnya. Wah, ini kayak perlakuan rasisme di negeri saya sendiri dong. Sialan
tuh bule. ( kata ‘tuh’ pada frase ‘tuh bule’ berusaha membentuk sebuah definit
partikel. Jadi bule yang sialan cuma dia kok. Bukan semuanya)

Tapi, saya jadi mikir. Kalo suatu malam di Jakarta, saya harus pulang ke rumah naek bus. Lantas itu bus hampir penuh hanya tersisa
dua bangku, tapi yang satunya disebelahnya orang Ambon. Saya pasti ambil yang
satunya lagi. Hehe..

Eh, Tapi, kalo yang satunya lagi terisi orang Batak. Yaa..
berdiri deh gua. Hehe..

Berarti saya juga rasis, dong? Hehe, Cuma karena orang batak
punya tendensi untuk berbicara dengan intonasi tinggi, bukan berarti semua
orang batak kalo berkelompok pasti ngerampok. Emang gak ada orang padang yang jadi copet?

Apakah semua orang Madura kalo enggak tukang sate, tukang
motong leher orang? Semua orang Sunda
gak bisa ngomong “f”? Semua orang Jawa jadi pembantu?
Semua orang Cina
kerjaannya menggerogoti duit negara? Semua orang Afrika yang masuk Indonesia mau menyelundupkan narkotik? Enggak, kan?
Tapi, apakah meningkatkan kewaspadaan saya seiring dengan interaksi saya dengan
manusia dari ras tertentu salah?

Enggak juga sih! Masak saya kudu ambil resiko dipalak demi
memulai sebuah gerakan anti rasisme? Jadi kita perlu rasis? Hehe… Bingung? selamat
mikir.

Otak manusia dengan mudahnya mengasosiasikan suatu kata
sifat dengan kata benda untuk memudahkan dia bekerja. Jadi kalo mau jadi orang
yang gak rasis, otak lu harus dikaryakan dengan lebih baik. Membebaskan diri
dari prasangka adalah pekerjaan yang tidak mudah.

Ngomong-ngomong soal prasangka, apa mungkin si bule itu ngomong
kata-kata tersebut lebih karena saya pecicilan ketimbang karena saya seorang Indonesia.

“…And in the end the love you take is equal to the love you make.” - The Beatles

Kali..

Lalu air sekonyong-konyong memancar

February 3rd, 2007 by primasabdullah

Waktu itu di
rumah saya ada selametan. Dan layaknya seorang tuan rumah yang baik, sayapun menyiapkan
rumah supaya layak ditamui. Yah, gak segitunya juga sih, banyakan yang kerja
bersih-bersih pastinya pembantu saya, sementara saya sibuk membantu CJ
membereskan Kota San Andreas dari penjahat-penjahat. Repot juga lho, saya
diharuskan belajar mengendarai pesawat.

 Kesibukan saya
terhenti seketika ibu saya memecah, ”Prim, Pompa air gak nyala! Pancing sana!”
Bagi anda yang terbiasa dengan layanan PAM, perlu saya berikan pengantar
sedikit tentang pompa air. Benda durjana bermerk dagang Sanyo ini, berfungsi
menyedot air dari bawah tanah untuk kemudian dialirkan ke bak penampungan
a.k.a. torren a.k.a. reservoir, lanjut kepada keran-keran di bak mandi, dapur,
etc. Absennya pompa air akan membuat dapur defisit air. Nah, Dapur tanpa air
pada saat selametan adalah suatu katastropi.

 Pada saat ibu
saya mengatakan benda ini tidak menyala, sesungguhnya benda ini menyala dan
listrik mengalir kepadanya. Hanya saja, air tidak mau keluar. Masalah ini biasanya
dapat disiasati dengan beberapa cara. Seperti: Memancing.
Bukan,
memancing di sini tidak bersinonim dengan mengail(me+kail). Jadi jauhkan
bayangan anda dari saya memegang tali pancing di depan pompa air saya. Memancing di sini adalah memberikan ruang sedot
si pompa sedikit air, sehingga ia tersugesti bahwa dirinya tidak impoten dan
mampu menyedot air dari tanah. Selanjutnya air akan mengalir sejadi-jadinya.
Mungkin seperti puber kedua pada bapak-bapak paruh baya. Dengan ide ini
tersimpan dalam benak, sayapun mengeksekusi rencana busuk ini.

 Yang berakhir
gagal. Air pancingan itu lenyap dari pandangan seperti tidak sedang terjadi
apa-apa.

 Tenang,
masih ada strategi kedua: Mengadu pada
ibu
.
Membiarkan ibu
mendelegasikan tugas pada adik2, siapa tahu mereka lebih beruntung, dan saya
melanjutkan memberantas polisi kotor di San Andreas.

 Yang pula
berakhir gagal. Adik-adik saya masing-masing memegang buku dan sapu.
Yang satu pura-pura ujian dan yang satu
lagi pura-pura bersih-bersih.

 Tenang, masih ada
strategi ketiga: Telpon tukang pompa.
Rencana ini mungkin dengan mulusnya sudah terlaksana… kalau hari itu bukan
hari libur.

 Lalu, berdirilah
saya didepan pompa air durjana ini berpikir-pikir bagaimana cara membetulkan
benda ini, ketika sekelebat memori saya terkenang suatu cerita yang pernah saya
dengar dari Emha Ainun Najib:

 Alkisah sewaktu
Nabi Musa melarikan diri dari kejaran Firaun, dia mengalami sakit perut. Karena
dia adalah Nabi yang diberi previlese untuk bercakap dengan Tuhan langsung,
maka memohonlah dirinya kepada Tuhan supaya disembuhkan.

 Tuhan kurang
lebih berkata, ”Musa, kamu pergi ke bukit di depan sana. Di sana ada semak,
kalau kamu makan daunnya, sakit perut kamu akan hilang.”

 Musa menghampiri
bukit yang dimaksud dan menemukan semak tersebut. Tetapi, sebelum sampai ia
menyentuh sehelaipun daun tadi, sakit perutnya lenyap.
Lantas, ia turun kembali ke tempat umatnya.
Belum sampai ia terduduk, perutnya kembali sakit. Ia pun langsung berlari ke
tempat semak tersebut dan memakan dedaunan tadi. Satu daun, dua daun, tiga
daun, dan seterusnya, tetapi, sakitnya tak kunjung hilang. Maka, iapun bertanya
pada Tuhan, “Tuhan, saya sakit perut lagi dan sudah makan dedaunan ini
berhelai-helai, tetapi, kenapa saya tak kunjung sembuh?”

 Tuhan berkata, “well, why don’t you ask?” Rupanya pada sakit
perut kedua, musa tidak minta Tuhan untuk disembuhkan, jadi, Tuhan tidak
menyembuhkannya.

 Moral dari cerita ini adalah, sekeras apapun usaha anda mencapai
sesuatu, seberat apapun kerja anda untuk mewujudkan cita-cita anda, itu tidak
ada relevansinya dengan hasil yang anda dapat. Hasilnya semata kehendak Allah.

 Saya dan si pompa air masih berpandang-pandangan. Dia tersenyum
karena aksi mogoknya masih berlangsung tanpa saya mengetahui bagaimana cara
membuat dirinya kembali memancarkan air. Lalu, dalam keadaan semi-putus:asa muncullah
strategi terakhir : Berdoa. Saya
menengadah ke langit dan berkata, “Ya Allah, Pleeeeaasse… kali ini aja biarkan pompa ini menyala.”

 Lalu air sekonyong-konyong memancar.

duapuluh tahun dari nobody

December 9th, 2006 by primasabdullah

Tadi siang sy membuka blog kawan sy. Gak nyangka, ternyata kawan sy sudah pada pinter2 nulis. Tadinya gw pikir, gw doang yg suka meracau di blog, ternyata semua orang sama suka meracau. Kalo gitu, gw ucapkan selamat tinggal pada nobel sastra.

Daag..

Gw pikir itu satu2nya penghargaan yang paling mudah gw menangkan, dibandingkan dg penghargaan lain. Misalnya, Nobel Fisika. Jelas gak mungkin.

Nobel Matematik? Gak perlu gw jawab juga ‘kan?

Nobel Perdamaian? Akh.. gw gak jago nego. Nawar barang aja harganya bisa jatoh lebih mahal..

Pritzker? Huahahaha *menyadari bodohnya pertanyaan ini*

Piala Oscar? Yaah, gak optimis sih..

Piala Citra? Hmm.. Bisa ajah. Kayaknya ini penghargaan yang paling mungkin gw menangin. Iya lah! Marcella aja bisa menang!

Tiba2 ketika saya sedang meracau-racau dalam hati, sebuah lubang waktu terbuka. Muncullah seorang lelaki setengah baya dari lubang waktu tadi. Dia teriak, ”Jay! Pakabar?”

”Eh, Siapa lu?”

”Gw itu elu 20 tahun dari sekarang!”

”Anjrit! Yang bener?”

”Bener!”

”Kalo emang bener, 20 tahun dari sekarang gw masih jadi arsitek?”

”Enggak. Beberapa tahun ke depan seluruh umat manusia sadar, bahwa ada profesi2 di dunia ini yang gak penting. Jadi lama-kelamaan profesi ini ditinggalkan. Profesi ini seperti Wakil Presiden, Model laki2, dan Arsitek.”

”Yah… padahal gw pengin jadi model.. terus gw kawin umur berapa?”

“empat puluh dua.“

“Buset tua banget! Tapi dia masih muda dong? Umurnya berapa?“

“Wah gak inget gw, yang gua tau si Njord, Istri kita, seangkatan dibawah anak kita. Namanya aneh ya? Dia model dari Finlandia.“

“Apa!! Anak!! Gua punya anak? Lebih tua dari istri gua pula!! Anak haram dong! Ama siapa?!“

”Anak itu gak ada yang haram… lagian, we prefer to call him love child. Ibunya… Lu tau Tiara Lestari? Yah dia itulah..”

”Model playboy Tiara Lestari?”

“Hus!!  Mantan model playboy. Lagian, dia udah tobat sekarang. Sekarang jadi Ustadzah.”

”Tiara jadi Ustadzah? Gimana ceritanya?”

”Setelah putus dengan kita, dia jadi sedih banget. Terus dia umroh. Pulang-pulang dia jadi Ustadzah. Sampe sekarang dia enggak kawin2. Kata infotainmen sih, dia masih belom bisa ngelupain kita. Katanyaa…

”Wah, canggih juga ya… kalo Tiara aja tobat, bintang2 jual diri yang gak jelas lainnya gimana? Sarah Azhari aja deh, dia gimana?”

”Wah, dia sih gak ketolong.”

”Iya sih.. Sekarang kerjaan lu apa jadi?”

”Gw udah pensiun. Dulu gw sempet jadi teller bank. Skarang gw menikmati masa tua gua..”

”Wadefak!! Gua kerja di Bank!! Lima tahun pendidikan sekolah arsitek akhirnya buat kerja di Bank!! Lagian lu ’kan baru 43 tahun. Apanya yang tua?!!”

”Well jay, seiring waktu berjalan, sistem yang kita caci maki semakin merdu terdengar. Kerjanya santai. Hitungannya cuma tambah-kurang; Gak ada program ruang; Gak ada Dokumen teknis penawaran lelang; Gak ada deadline mendadak; Gak ada Lembur ngerjain 3dmax sampe pagi; Malah software yang gw pake cm excel dan word. Itupun word cuma gw pake waktu bikin surat sakit. Enak lah pokoknya.. Sayangnya, gw gak bisa ngebagi waktu dengan begitu banyaknya acara sosial yang harus gw jalanin. Jadi gw pensiun deh.”

”Acara sosial?”

”Iyah, gw harus dateng ke party2 gt deh. Malah ntar jam 10 gw harus ketemu Ilsa di Ibiza.”

“Ilsa siapa?”

“Cewek gua.”

“Kampret!! Lu bukannya udah punya istri? Si Njord itu tadi?”

“Iya, Tapi, santailah, Si Njord juga selingkuh sama trainernya, Pedro, kok. Wah, udah udah jam segini.. gw balik dulu ya. Speedboat gw dipake anak gw pacaran di pulau Cyprus sama Maissy. Gw gak tau nih mo naek apa ke Ibiza dari rumah. kayaknya gw harus naik jet deh. Btw, Tau Maissy ’kan? Penyanyi cilik itu lho.. Anak kita emang suka daun tua.”

”yaa sudah lah, selamat menjalani hiduplu. Asal  jangan jadi homo ajah.”

Tiba-tiba menepuk dahinya, “oh iya, kenapa gw gak nyoba itu dari dulu ya..”

“KUTUKUPRET! Awas! Sampe kentut gw bunyinya…”

Sayangnya benjai masadepan lenyap sebelum ancaman gua selesai diucapkan. Gw merenung2. Waw.. sungguh masa depan yang cerah terbentang di hadapan kita..

Such a gay day

August 29th, 2006 by primasabdullah

Akhir-akhir ini saya merasakan suatu paranoia yang berlebih. Paranoia tersebut mencuat dalam situasi yang biasa saja dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika seorang teman laki-laki dari kantor saya yang baru saja saya kenal mengajak saya ke suatu mall berdua aja, tiba-tiba bulu kuduk saya merinding. Atau ketika saya menemani teman saya yang lain untuk mencari material porno (dia yang mencari, serius! Saya semata menemani)  Saya sekilas melihat dalam sebuah kover dvd, dua orang yang sedang dalam posisi yang tidak layak diceritakan dalam blog ini. Seketika bulu kuduk saya kembali merinding. Sekejap kemudian ternyata dua orang tersebut cowok dan cewek, hanya saja si cewek berambut pendek.

Berdasarkan petunjuk yang sedikit di atas, apatkah anda menduga paranoia apa yang tengah saya derita? Tuliskan jawaban anda pada secarik kertas dan untuk mengetahui tingkat ketelitian anda. Tuliskan dugaan anda di bagian komentar di bawah posting ini. Kalau anda ingin membaca ulang untuk menebak berhentilah membaca di sini.

OK? Sudah ditulis? Mari kita telaah asal usulnya.

Semuanya bermula ketika saya akhirnya bertemu dengan seorang kawan lama di suatu mall di jakarta. Karena kawan saya ini telah bercerita sebelumnya melalui sms bahwa dia sekarang sudah punya cewek, insting tukang korek informasi saya membumbung. Sebelum saya bertemu dengannya, saya telah merancang rencana pengorekan informasi. Nantinya seketika bertemu dengannya, tanpa basa-basi, saya akan bertanya tentang kisah kehidupan asmaranya dengan cewek barunya. Dan akan berceritalah dia seperti semua kisah asmara yang pernah saya biasa dengar. Tidak ada yang istimewa. Lalu kita pulang ke rumah kita masing-masing. Dan kisah ini akan saya simpan rapat-rapat tanpa pernah saya singgung ke hadapan sidang pembaca blog yang mulia.

Akan tetapi, saya melakukan suatu kebodohan.

Bukannya bertanya tentang kehidupan asmara dengan ceweknya, saya malah bertanya terlebih dahulu kehidupannya. ”gimana kabar lo?”

”Yah, gitu deh, gua telah melakukan sesuatu yang kalo gua ceritain pasti bikin lu shock dan ngerubah pandangan lu terhadap gua..”

”haha, paling apa sih? Lo jadi homo? Hahaha…”

dia gak ketawa.

Saya menghentikan tawa saya, ”Serius lo?”

Dia ketawa dengan anehnya mencoba mengatasi kondisi yang tidak karuan ini sambil mencoba mengetahui reaksi saya. Sekejap saya berusaha mengendalikan diri, tidak diketahui tampang saya seperti apa waktu itu. Seketika ingatan saya mencoba mendeteksi suatu keanehan dalam tingkah lakunya selama bertahun-tahun saya kenal dengannya, dan mencoba membaca korelasi tanda-tanda ini dengan fakta yang baru disuguhkan ke hadapan saya.

Hasilnya: nol. Dia sudah beberapa kali jadian dengan cewek; olah raga yang ia pilih cukup normal; tanda-tanda melambai kecil; penonton film porno. Hanya seorang lelaki biasa yang punya tingkat hawa nafsu yang biasa pula. Lalu muncullah pertanyaan itu dari mulut saya, ”kok? kenapa? Dari kapan?”

” I guess, I have always been a gay.”

Well, dia benar, sekarang saya shock. Dia lalu bercerita dengan panjang lebar bagaimana ia pertama bertemu dengan pacarnya (yang cowok tentunya, berlawanan dengan harapan saya semula) bagaimana ia akhirnya mengetahui ia seorang gay, dan bagaimana hubungannya dengan cowoknya, yang ternyata merupakan cowoknya yang ke sekian.

Saya lalu mencoba menganalis, dengan metode psikoanalisis yang dangkal dan cemen kisah masa kecilnya, dan berharap penyebabnya dapat ditemukan dalam satu sesi terapi. Rupanya ia pun tidak dapat menceritakan suatu kisah hidup yang koheren dengan ke-homo-annya. Saya bingung, dicampur sedikit shock atas informasi terkini yang baru ia limpahkan. Daripada pusing akhirnya saya ketawa-ketiwi aja bersama dirinya. ”kalo lu gua pegang-pegang, lu jadi horny gak ama gua?”

”Sori, lu bukan tipe gua.” singkat, tapi, menyakitkan. Saya sudah mengalami berbagai jenis penolakan oleh cewek. Tidak ada yang semenyakitkan ini. Percaya deh. Sudah ditolak, sama homo pula…

Guru biologi saya waktu SMA, Pak Iskandar, pernah cerita di kelas, kalau homoseks dapat terjadi karena faktor lingkungan atau faktor genetik. Saya pikir agak sulit untuk menyalahkan seorang gay atas pilihannya menjadi gay kalo emang itu karena faktor genetik. (kalo motifnya sama kayak George Michael mungkin boleh kita bakar rame2. oh, untuk anda yang tidak tahu, motifnya : variasi, bosen sama perempuan.)

Tapi, aneh juga, kalo kita menganggap tidak apa-apa menjadi gay karena alasan genetik. Banyak pelaku pembunuhan yang memiliki sifat genetik yang agresif. Dengan kata lain, mereka memang dilahirkan untuk menjadi pembunuh. Tapi, ini tidak berarti membunuh adalah sesuatu yang tidak apa-apa, kan? Maksud saya, jika pembunuhan dapat dipersalahkan walaupun karena merupakan keinginan alam, lalu kenapa perilaku homoseksual tidak apa-apa?

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya bertemu dengan gay. Saya sudah beberapa kali berkenalan dengan gay, hanya saja, saya mengenal mereka dalam keadaan mereka sudah gay. Belum pernah saya berada dalam lingkungan seseorang yang sedang menghomo (anggap saja ’menghomo’ merupakan sebuah kata. Dimana imbuhan me- berarti proses menjadi. Sama seperti mengkristal) dan ketika kawan saya yang tadinya saya kira straight teranyata gay, saya merasa seperti pandemi ini sudah berada di halaman depan rumah saya, dan mencari-cari jalan untuk bisa masuk lewat pintu belakang (it’s a joke, get it?) So, mulailah saya digerogoti paranoia yang tak berakar. Seperti, saya mulai menduga-duga, adakah teman saya yang mengajak saya ke mall berdua saja seorang gay? Adakah itu upaya dia mendekati saya? (Saya sih kalo ngajak perempuan berdua aja ke manapun, pasti ada maksudnya. Nah kalo gay ngajak saya berdua? Perlu curiga gak tuh?) 

Saya pernah membaca ternyata perilaku homoseksual dapat ditemukan pada berbagai jenis orang, bahkan yang heteroseks sekalipun. Keinginan itu seperti sebuah dorongan untuk berhubungan badan dengan sejenis. Tetapi karena restriksi sosial, seorang gay dapat memendam keinginannya menjadi seorang gay dan meletakkannya dalam otak bawah sadarnya. Sehingga yang muncul dalam otak sadarnya hanya kebencian kepada gay yang berlebihan.

Jadi, kalau anda memiliki suatu homofobia, atau suatu kebencian yang mendalam terhadap kaum homoseks, berhati-hatilah, anda mungkin gay. Usul saya kalau anda benar homofobik, terima saja kemungkinan anda mungkin seorang homo, dan akui saja, jangan dipendam. Gak apa-apa kok, setiap orang cobaan hidupnya beda-beda, anda mungkin punya cobaan ini. Tetapi, perlu diingat, Tuhan (kalau anda atheis ganti kata ’Tuhan’ dengan ’Alam’) menciptakan vagina sebagai pasangan penis baik secara fisiologis, fungsional, maupun estetika. Bukan anal. So, anda tidak akan berada dalam kondisi penyangkalan. Dan anda akan memiliki alasan yang kuat untuk tidak menjadi Gay: Because God says not to.

Good luck dengan teori di atas. Mudah-mudahan anda dapat tetap straight. Namun, kalau anda benar-benar straight, dan masih membenci kaum homoseks. Tidak apa-apa, saya juga. Jaga saja keluarga anda, dan kawan-kawan dekat anda dari perilaku tersebut.

Tapi, kalo udah terlanjur gay gimana? Well, bukankah itu sudah menjadi hak asasi sesiapapun untuk mencintai sesiapapun lepas dari jenis kelaminnya? Bukannya seseorang berhak menjadi bahagia dalam kerangka pemikiran masing-masing? Bagaimanapun, kalau dia udah gede dan punya pikirannya sendiri, tentu dia tahu semua konsekuensi dari pilihannya.

Tulisan ini bukan berusaha untuk membenarkan perilaku homoseksual, atau bahkan menyerang keberadaan komunitas gay. Saya hanya berpikir, kayaknya kejam gak sih kalo seseorang dinilai cuma gara-gara orientasi seksualnya, bukan potensinya?

Nah, anda tentu sekarang sudah tahu penyebab paranoia saya. Dua cerita di pangkal tulisan ini berakhir dengan twist ending. Si teman kantor saya ternyata normal. Di ke mall tersebut dan menggoda beberapa mbak-mbak. Sayangnya pada kisah kedua di tumpukan DVD lain saya benar menemukan material porno untuk Gay. (gila gak? Glodok udah mengedarkan barang-barang gay. Sesuai hukum ekonomi, ada penawaran karena ada permintaan. Berarti komunitas gay sudah cukup besar di jakarta. Waduh, gay invasion, bo. Yuuu…)

Jadi, moral dari cerita ini adalah, mari kita jauhi perilaku homoseksual, tanpa menjauhi manusianya. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi suatu batu pijakan untuk memahami kawan kita yang gay.

Akhirnya malam itu ditutup dengan dia menceritakan suatu sms mesra dari pacarnya. Smsnya berbunyi,”I don’t know if it’s right. But I know that it’s true.”

“Goddammit, stay away from me you stupid faggot!"

—–

Dibuat dengan penuh rasa hormat dan persahabatan kepada kawan-kawan saya yang gay.

Why? Why? Why this Weekend?

July 15th, 2006 by primasabdullah

Why? Why? Why this Weekend?

Kisah ini dimulai sabtu lalu (8/7)ketika saya akhirnya nonton Superman Returns. Dalam film tersebut, dikisahkan Clark kembali, setelah 5 tahun melanglang buana ke kampung halamannya. Begitu kembali, suasana sudah agak berbeda, Lois Lane punya anak dengan keponakan Perry White; Lex Luthor mencari duit dengan cara yang tidak seelegan tindak kejahatan sebelumnya, mengharap warisan janda kaya. Tidak seperti Lex yang gua kenal.

Jadi! cerita berkembang dengan cara yang biasa saja. Modus operandi dan motif Lex, malah masih sama seperti film Superman I, menjadi pengusaha properti. Tapi, itu tidak membuat film ini menjadi tidak keren. Thanks to musik yang superkeren dari John Williams, dan cameo supersekejap dari Marlon Brando.

(tau kan Marlon Brando? Yang jadi bapak asli Clark. Dia juga yang jadi Vito Corleone di film Godfather. Tau kan? (yah saya akui, ini alasan yang sangat subjektif, tapi Don Corleone gituh loh? Siapa yang gak bisa subjektif))

So, sampai pada suatu adegan genting, dimana Lois tidak berdaya hampir dihajar oleh kaki tangan Lex, tiba-tiba terjadilah sesuatu yang dapat menimbulkan suatu asumsi yang menyakitkan hati. Anak Lois yang menyaksikan penyiksaan terhadap ibunya lantas melemparkan grand piano ke si kaki tangan. Yah, anda tidak salah baca, sebagaimana saya tidak salah lihat. Sebuah Grand Piano. Saya hanya menduga2, dan berharap saya salah. Malah dari adegan itu sampai ending saya berdoa, ’God! Please! There must be an explanation.’

Ternyata tidak. Malah pada akhir film, kenyataan tersebut lalu dipertegas. Yeah, Anaknya Lois adalah anaknya Superman juga.

Tiddaaaakkkk!! Why Clark? Why did you do it? Mungkin dia kelepasan, tau ‘kan kalo cowok bedua ama cewek, yang ketiga setan.

Gua berusaha merasionalisasi fakta bahwa Superman cuma manusia (sori, maksud gw alien yang punya tipologi seperti manusia) Lantas, Lois. Bagaimana caranya bisa ada orang yang mikir dirinya bapak dari anak Superman? Berarti pada saat Lois dengan Superman dia juga dengan… Akh, gua gak sanggup meneruskan kalimat terakhir. Well, ada kata benda yang biasanya digunakan untuk memanggil orang seperti ini.

Sudahlah, Jay. Ini Cuma film.

”Gak bisa! Ini bukan sekedar film! Ini Superman! Gak bisa!”

Sudahlah mereka hanya karakter yang diciptakan oleh manusia. Mereka gak bener2 nyata kok.

”Gak bisa ini menghancurkan penokohan yang diciptakan oleh penulis2 handal selama 60 tahun. Clark Kent gak akan seperti itu. Gak Bisaaaa!”

Sudahlah, nanti DC Comics kita beli, terus kita bikin film Superman dengan ending yang tak terduga. Misalnya, ternyata dia setelah 5 tahun berkelana ternyata selama ini dia kembali tidak ke Bumi. Tapi, sebuah planet yang mirip Bumi. Dan anak itu ternyata anak alien lainnya yang mau memangsa otak Superman. Gampang ’kan?

”Yaahh.. Boleh lah. Walaupun sebenernya ceritanya juga gak aneh-aneh amat”

Yah, mari kita redakan kegundahan hati ini dengan menyaksikan Final Piala Dunia 2006. Sesudah Perancis menang dan Zidane bermain indah sebagai perpisahannya dengan karirnya di sepak bola, pasti perasaan sakit hati ini akan reda, dan jadilah ini weekend terindah dalam hidup kita…

Suatu malam menuju bandung

June 10th, 2006 by primasabdullah

Waktu itu jam 9 kurang sekian. Gw lagi di sebuah mobil travel. Sebenernya sih taksi gelap namanya, itu tuh yang suka ada di Gambir. Acara swasta malam itu direncanakan dimulai jam 9. Swasta adalah istilah yang digunakan di ITB untuk mengacu pada orang yang sudah tua sekali sehingga tidak bisa jadi panitia. Tapi, acaranya pasti molor. Pelantikan kaderisasi emang selalu molor. Gw pasti kebagian acara.

Gw ceritanya ada di suatu pintu tol sebelum pasteur. Awalnya gw emang cm mo tidur di mobil. Pokoknya tau2 sampe di st. Hall. Eh, entah kenapa si pak supir, yang sedari awal perjalanan emang sudah berakrab-akrab ria dengan salah satu bapak-bapak penumpang, tau-tau marah-marah dalam bahasa Sunda. Sebagai pemuda perantauan yang telah berjuta-juta kali berinteraksi dengan supir angkot Sunda, saya pun sedikit berhasil menerjemahkan omelan tersebut dalam bahasa Indonesia. Terjemahannya kurang lebih seperti ini,  "Wah, Kok Bau ya?"

"Bau Apa ini pak?"

"Ini pasti sampah!"

"Sampah dari mana pak?"

"Ini dasar Si Dada Rosada, gak bener, dia buang sampah gak diolah lagi. Coba, bla bla bla… " Dada Rosada itu walikota bandung. Dan kalimat di atas masih panjang, cuman karena isinya cuman makian dan pemahamannya membutuhkan pengalaman berdebat dengan supir angkot sunda yang lebih handal, maka saya tidak dapat menerjemahkannya ke forum yang terhormat ini.

Sebenarnya saya mau melanjutkan tidur saya sedikit lagi, untuk membalas defisit tidur seminggu ini, tapi tiba-tiba percakapan menjadi memanas. "Tapi pak, ini bukannya salahnya gubernur?" tanya si penumpang.

"Gak bisa begitu pak, Ini kesalahan Kotamadya, Bodoh sekali kalau ini memerlukan Penyelesaian tingkat provinsi. Di bandung itu pak, ada lembaga yang berkompeten membicarakan masalah lingkungan pak. Di Bandung itu ada lembaga yang namanya ITB! Di dalamnya ada Jurusan yang namanya Teknik Lingkungan! Mereka itu orang-orang pinter pak! Egois sekali mereka kalau mereka tidak mau menyelesaikan masalah seperti ini aja."

Gw nunduk, jaket gw, gw balik. takut kalo2 tulisan Institut Teknologi Bandung-nya keliatan. Tiba-tiba kenangan-kenagan indah masa kuliah bersliweran. Tiba-tiba syair lagu ‘kampusku rumahku’ menjadi chores malam itu.

".. Berjuta rakyat menanti tanganmu// mereka lapar dan bau keringat// kusampaikan salam, salam perjuangan// kami semua cinta, cinta Indonesia.."

Untung malem itu gw gak bawa hati nurani, sehingga rencana menertawakan penindasan terhadap anak-anak 2005 di pelantikan pun berjalan dengan mulusnya.